Langsung ke konten utama

Rahmi: Mereka Punya Hak Hidup Bebas di Alam dengan Tenang


Hampir setengah tahun kebakaran hutan berlangsung di daerah Sumatera. Bencana tersebut tidak hanya menimbulkan kerugian ekonomi, kesehatan, dan korban jiwa, tapi juga dampak lingkungan yang serius. Tarbijah Islamijah Media mewawancarai salah seorang aktivis lingkungan, Rahmi Carolina Sembiring untuk menceritakan kondisi di daerah Riau saat ini. Kabut asap dari kebakaran, berdampak langsung kepada masyarakat. Kegiatan sehari-hari pun terganggu, bahkan sekolah pun sempat diliburkan untuk mengantisipasi para siswa terjangkit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA).


Sampai saat ini, kebakaran hutan masih belum teratasi meski pemerintah telah melakukan berbagai tindakan. Untuk menghentikan perluasan kebakaran di kerahkan helikopter dan juga pesawat bom air di titik api. Di samping itu diterjunkan juga personil TNI untuk membantu dan membuat sekat pada kanal-kanal penahan air agar lahan gambut tetap basah, hingga perluasan di harapkan bisa diminimalisir. Berikut petikan wawancaranya,

Sebelumnya, bisa Anda ceritakan aktivitas dan advokasi Anda dalam isu-isu lingkungan selama ini?

Saya penulis freelance dan masih menyandang status sebagai mahasiswa. Saat ini sedang konsen menulis isu-isu lingkungan, juga tergabung dibeberapa komunitas konservasi lingkungan. Terakhir, saya bikin petisi soal asap. Saya bersama teman-teman memulai kampanye kreatif lewat media sosial


Bisakah Anda gambarkan bagaimana kondisi di Riau sekarang ini?

Kondisi terkini, asap di Riau masih ada. Walau demikian sekolah-sekolah sudah memulai dengan waktu normal. Bandara juga sudah buka. Beberapa orang mulai melepaskan masker. Matahari mulai tampak. Namun asap bisa datang kapan saja. Yang perlu diingat adalah masih ada paska kejadian dengan banyaknya penderita dan efek jangka panjang dari bencana asap.

Bagaimana pendapat Anda tentang kebakaran hutan yang terjadi di pulau Sumatera?  Khususnya tentang dampaknya pada lingkungan hidup?

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi selama 18 tahun ini sangat keterlaluan. Sebab secara ekologi dan lingkungan sangat buruk dampaknya. Manusia kehilangan hak untuk menghirup udara bersih, hutan habis terbakar jadi perkebunan. Satwa liar kehilangan habitatnya bahkan bisa saja mereka keluar dan masuk ke perkampungan.


Sejauh ini, apa saja dampak yang telah dirasakan akibat pembakaran hutan Sumatera?

Dari sisi pendidikan adek-adek saya dan seluruh pelajar di Riau terancam bodoh karena sekolah terus diliburkan. Anak-anak kecil tidak mendapatkan haknya untuk bermain di luar rumah. Penderita ISPA terus bertambah bahkan korban jiwa.


Apa saja tindakan pemerintah, baik pusat maupun daerah yang telah dirasakan masyarakat Riau?

Tindakan pemerintah? Berbagai peran saya rasa sudah ikut andil. Mulai dari pihak pemadam kebakaran yang berada di garda depan. Saya lihat sendiri mereka mempertaruhkan segala bahkan nyawanya. Lalu TNI, Polri dan Manggala Agni yang juga berada di jalur depan. Siang malam mereka memadamkan. Apresiasi tak terhingga buat mereka, namun permasalahan kabut asap bukan cuma soal memadamkan api saja, pasca kejadian pemerintah harus membuat regulasi yang jelas tentang permasalahan ini. Misalnya rencana aksi penanganan, mitigasi mengenai kabut asap dan karhutla. Tapi disisi lain beberapa pihak pusat dan daerah juga lamban. Mereka datang terlambat, pembukaan posko kesehatan juga tidak terlalu baik. Posko berada di ruang terbuka, maksud saya di tenda-tenda. Ini kan bukan bencana alam seperti banjir dan tanah longsor, ini bencana asap. Penanganannya jelas berbeda.

Salah satu dampak kebakaran hutan ini adalah hilangnya habitat satwa-satwa yang hidup di hutan Sumatera, bagaimana pandangan Anda tentang hal ini?

Setiap hewan dan satwa punya hak untuk hidup dan memiliki kepentingannya sendiri, termasuk hak untuk tidak hidup dengan menderita. Tentu ini tidak jauh berbeda dengan hak dan kepentingan yang dimiliki manusia. Mereka punya hak hidup bebas di alam dengan tenang. Kalau mereka keluar habitat dan masuk pemukiman tentu akan muncul masalah baru, misalnya gajah dan harimau. Selain itu juga berpengaruh terhadap jalur migrasi burung, dimana Riau dikenal sebagai salah satu jalur masuk burung migrasi khususnya Raptor yang melewati pulau Rupat. Apalagi pencemaran udara akibat karhutla cukup tinggi, ISPU dengan PM10 diambang batas dan terjadi berbulan-bulan.


Menurut Anda apa saja tindakan yang hendaknya diambil untuk melindungi satwa yang menjadi korban kebakaran ini?

Ya kalau ditemukan terbakar dan terpapar asap tentu dirawat dan diobati. Kalau habitatnya hilang, yang layak dan bisa direlokasi ya direlokasi, seperti mamalia, gajah dan harimau. Kalau untuk pencegahan, banyak. Jangan membakar hutan simpelnya dikampanyekan sekreatif mungkin untuk dikonsumsi berbagai umur.

Dalam bencana kebakaran ini, salah satu fenomena yang menarik adalah kuatnya partisipasi publik mengadvokasi lewat media online, bagaimana pendapat Anda tentang ini?

Saat ini kita sedang berada di era tsunami informasi. Era dimana semua orang bisa mendapatkan atau memberikan berbagai informasi dengan mudah melalui internet dan sosial media. Banyak masyarakat memanfaatkan momen ini untuk melakukan kampaye dan berkeluh kesah lewat sosial media. Ia terus sahut-menyahut dan lebih cepat mendunia. Termasuk petisi dan surat terbuka. Ini juga merupakan bentuk perjuangan secara massif akibat pemerintah yang abai selama 18 tahun. Apresiasi untuk pemuda Riau yang gencar melakukan berbagai aksi di media sosial. Mereka menekan dari segala sisi, mulai dari turun ke jalan lalu disebar ke media sosial. Menulis puisi, petisi, bikin komik, meme dan video. Salut!

Kebakaran tahun ini adalah salah satu bencana besar di Indonesia. Apa poin penting yang bisa Anda bagikan kepada kami tentang kejadian ini?

Iya, tapi sayang (kebakaran hutan) tidak masuk dalam kategori bencana nasional. Belasan tahun pemerintah terlalu sepele melihat kejadian kabut asap ini. Gonta-ganti kepala daerah dan Presiden, namun hasilnya tetap sama. Asap terus ada. Lemahnya penanganan hukum sejak dulu adalah bukti gagalnya pemerintah dalam menjaga lingkungan khususnya gambut. Selama Indonesia merdeka, kita terlalu sibuk merusak alam dan lupa mencintai lingkungan bahkan setelah bencana datang. Sumatera, khususnya Riau juga bagian dari Indonesia. Pemerintah mesti lebih serius lagi urus soal kebakaran hutan dan lahan. Indonesia bukan hanya Jakarta saja, yang kalau banjir akan jadi headline di hampir seluruh media. 18 tahun kebakaran hutan dan lahan adalah praktek pembiaran. Setiap warga negara berhak menghirup udara yang bersih kan? Indonesia mesti bebas asap 2016.[]

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Data Nyastra Sarongge

Judul : Sarongge Penulis : Tosca Santoso Penerbit : Dian Rakyat Tahun terbit : September 2012 Tebal buku : 370 halaman Sebuah novel fiksi pertama karya Tosca Santoso. Direktur Utama KBR68H ini sudah 20 tahun lebih menjadi seorang jurnalis. KBR68H kantor berita radio independen terbesar di Indonesia. Melayani berita dan program-program radio berkualitas untuk 900 radio lebih di Indonesia, serta 9 negara di Asia dan Australia terhitung hingga saat ini. Selain itu ia juga   menjadi Direktur Utama Green Radio dan Tempo TV. Sarongge adalah tempat angker yang dihuni roh-roh jahat. Begitu kata sebuah catatan usang penulis Belanda. Sisi lain, warga setempat bercerita kalau Sarongge adalah makhluk jejadian. Berkepala manusia, tetapi berbadan kuda seperti halnya dongeng Yunani, Centaurus. Namun sayang belum ada warga yang pernah bertemu makhluk tersebut. Sehingga tak ada gambaran lebih jelas atau hanya seonggok cerita turunan dari nenek moyang mereka.

Pekasam Ikan Subayang

Oleh: Rahmi Carolina Pekasam ikan merupakan salah satu produk ikan awetan yang diolah secara tradisional. Ia dilakukan dengan metode penggaraman yang dilanjutkan dengan proses fermentasi. Biasanya pekasam menggunakan ikan air tawar dengan rasa sedikit masam ketika sudah jadi. Di Riau sendiri khususnya di Rimbang Baling, Kampar Kiri Hulu olahan masakan ini cukup dikenal. Konon kabarnya, pekasam ikan ini dilakukan agar ikan awet lebih lama, food safety. Ia pun menjadi makanan simpanan jika satu waktu terjadi kesulitan mencari bahan pangan. Sebab dimasa itu belum ditemukan cara pengawetan dengan tekhnologi menggunakan pendingin bersuhu di bawah nol derajat celcius, seperti kulkas. Kamu penasaran? Mari kita coba! Bahan: 1.       1kg ikan Lilan (ikan air tawar dari Subayang) 2.       ½ canting beras 3.       1 bungkus garam kasar 4.       3 helai daun kunyit Cara membuatnya: 1.       Siangi ikan dan cuci bersih. 2.       Sangrai beras hingga berwarna cokla

Melepas Kutukan Melalui Perempuan

Oleh: Rahmi Carolina Tanggal 9 Desember merupakan Hari Anti Korupsi Internasional. Beberapa spanduk tentang peringatannya berdiri rapi di bibir jalan Sudirman. Kabarnya, Riau mejadi tuan rumah dalam momentum tersebut. Mungkin ia terpilih karena kisah kelam dimasa lalunya sebagai daerah rawan korupsi. Di Indonesia, berbicara soal korupsi sudah seperti makanan sehari-hari. Hal itu terbukti dari banyaknya pemberitaan di media yang menyoroti kasus tersebut. Selalu saja ada dan seolah tanpa jeda. Bahkan untuk Riau sendiri saat ini disebut sebagai daerah yang memiliki angka korupsi tertinggi. Lantas disusul oleh daerah Aceh, Sumatera Utara, Papua dan Papua Barat. Tentu saja pencapaian yang diperoleh Riau seolah kutukan untuk marwah melayu. Sumber: Google Sejak KPK berdiri, tercatat sudah 25 orang pejabat di Riau tersangkut kasus korupsi. Tingginya kasus korupsi di Bumi Lancang Kuning tampak dari terjeratnya tiga Gubernur dalam tiga periode berturut-turut. Ketiganya ditahan KP